Memasuki pertengahan tahun 2025, dunia masih terus berhadapan dengan virus COVID-19. Meskipun tidak lagi berada dalam fase pandemi darurat global, kemunculan varian-varian baru dan lonjakan kasus di beberapa negara, termasuk di Asia Tenggara, menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan upaya proteksi diri tetap menjadi kunci utama. Di Indonesia sendiri, pemerintah dan masyarakat terus beradaptasi dengan dinamika virus yang terus berevolusi ini.
Situasi Global dan Varian yang Beredar
Secara global, pada Mei 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya peningkatan kasus COVID-19, terutama didorong oleh lonjakan di kawasan Asia Tenggara. Varian turunan Omicron masih mendominasi sirkulasi virus di seluruh dunia. Salah satu varian yang menjadi sorotan adalah varian Nimbus (NB.1.8.1), yang telah menunjukkan peningkatan prevalensi secara global.
Sampel pertama varian ini tercatat pada 22 Januari 2025, dan hingga 18 Mei 2025, telah ditemukan 518 sekuens yang terdeteksi di 22 negara menurut data GISAID, atau sekitar 10.7% dari total sekuensing global, meningkat signifikan dari 2.5%, empat minggu sebelumnya. Varian ini diketahui memiliki kemampuan penularan yang lebih tinggi, meskipun data awal tidak menunjukkan adanya peningkatan keparahan penyakit dibandingkan varian lain yang beredar.
Secara klinis, varian Nimbus tetap tergolong sub-varian Omicron dengan gejala umum seperti kelelahan, batuk ringan, demam, nyeri otot dan hidung tersumbat. Namun ada juga ditemukan keluhan khas berupa sakit tenggorokan sangat berat seperti “razor blade sensation”. Meskipun demikian, gejala dapat bervariasi, sehingga kewaspadaan tetap dianjurkan terutama jika mengalami perubahan kondisi kesehatan.
WHO memasukan varian Nimbus dalam daftar Variant Under Monitoring (VUM). WHO juga terus memantau beberapa varian lain dalam kategori VUM dan Variant of Interest (VOI), seperti LP.8.1, KP.3, dan XEC. Pergeseran dinamika varian ini menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 terus bermutasi, menuntut sistem kesehatan global untuk tidak lengah.
Kasus di Indonesia: Munculnya Varian Lokal dan Imbauan Kemenkes
Di Indonesia, hingga awal Juni 2025, situasi COVID-19 dilaporkan relatif terkendali dengan tingkat positivitas di bawah 1 persen. Kementerian Kesehatan RI mencatat adanya total 75 kasus positif COVID-19 sepanjang tahun 2025 hingga akhir Mei 2025. Meskipun angka ini terbilang rendah, sempat terjadi sedikit peningkatan tren kasus pada minggu ke-22 tahun 2025.
Data Kementerian Kesehatan per Juni 2025 menunjukkan ada dua subvarian yang mendominasi kasus di Indonesia, yaitu MB.1.1 dan KP.2.18. Keduanya merupakan turunan dari varian JN.1 dan disebut memiliki karakteristik risiko yang rendah. Hingga saat ini, varian NB.1.8.1 yang menjadi sorotan global belum terdeteksi secara dominan di tanah air.
Menteri Kesehatan R.I, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama melihat tren peningkatan kasus di negara-negara tetangga di ASEAN. Pemerintah terus memperkuat surveilans dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus.
Gejala dan Long COVID yang Perlu Diwaspadai
Gejala yang ditimbulkan oleh varian-varian baru di tahun 2025 umumnya masih serupa dengan gejala flu ringan, seperti:
- Demam ringan atau meriang
- Sakit atau iritasi tenggorokan
- Nyeri otot
- Hidung berair atau tersumbat
- Batuk kering yang persisten
- Kelelahan dan sakit kepala ringan
- Gejala pencernaan seperti mual atau diare
Meskipun mayoritas kasus bersifat ringan, risiko perburukan tetap ada, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, individu dengan penyakit komorbid (diabetes, hipertensi, penyakit jantung), dan mereka yang belum melengkapi vaksinasi.
Selain itu, ancaman Long COVID atau kondisi pasca-COVID masih menjadi perhatian serius. Gejala seperti kelelahan ekstrem, sesak napas, “kabut otak” (brain fog), dan nyeri sendi dapat bertahan selama berbulan-bulan setelah infeksi awal dan secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Menurut seorang ahli Kesehatan di London, Dr. Naveed Asif, mengungkap ada keluhan khas berupa sakit tenggorokan sangat berat; dideskripsikan seperti “razor blade sensation”, yakni sensasi ditusuk benda tajam saat menelan.
Saran dan Cara Berlindung: Adaptasi di Era Endemi
Menghadapi COVID-19 di tahun 2025 menuntut adaptasi kebiasaan hidup yang lebih sehat dan berkesadaran. Berikut adalah langkah-langkah antisipasi dan perlindungan yang dapat kita lakukan saat ini:
- Lengkapi Vaksinasi dan Booster: Vaksinasi masih menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dari gejala parah, rawat inap, dan kematian. Pastikan Anda dan keluarga mendapatkan dosis vaksin dan booster sesuai dengan anjuran terbaru dari pemerintah. WHO dan CDC merekomendasikan vaksin COVID-19 formulasi 2024-2025 yang telah disesuaikan dengan varian yang lebih baru seperti turunan JN.1.
- Kenakan Masker di Situasi Berisiko: Meskipun kewajiban penggunaan masker telah dilonggarkan, sangat dianjurkan untuk tetap mengenakan masker berkualitas tinggi (seperti N95 atau KN95) saat berada di tempat ramai dan tertutup, di transportasi umum, atau Ketika Anda merasa tidak enak badan.
- Tingkatkan Higienitas Diri: Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol tetap menjadi pilar utama pencegahan.
- Jaga Sirkulasi Udara: Pastikan ventilasi udara di dalam ruangan, baik di rumah maupun di tempat kerja, berjalan dengan baik. Membuka jendela secara berkala dapat membantu mengurangi konsentrasi virus di udara.
- Tetap di Rumah Saat Sakit: Jika Anda mengalami gejala pernapasan, sebaiknya beristirahat di rumah dan hindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan. Lakukan tes COVID-19 jika gejala mengarah ke infeksi virus ini.
- Terapkan Gaya Hidup Sehat: Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, dan mendapatkan istirahat yang cukup dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh secara keseluruhan.
- Cari Informasi dari Sumber Terpercaya: Dapatkan informasi terkini mengenai perkembangan COVID-19 dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI atau WHO untuk menghindari misinformasi.
Apa lagi yang penting diketahui masyarakat umum
Berdasarkan laporan World Health Network, ada empat karakteristik utama dari varian Covid Nimbus:
- Penularan lebih mudah dibandingkan dengan varian sebelumnya.
- Gejala khas berupa nyeri tenggorokan yang sangat menyakitkan, digambarkan seperti disayat silet (razor-blade sore throat), lemas, batuk ringan, demam dan nyeri otot.
- Tingkat keparahan penyakit masih dalam pemantauan.
- Munculnya varian ini di musim panas menandakan bahwa Covid-19 kini tidak lagi musiman.
Dengan tetap waspada, disiplin menerapkan protokol kesehatan yang relevan, dan saling menjaga, kita dapat melewati fase endemi ini dengan lebih aman dan sehat.


