Pendahuluan
Jika kita bicara tentang nikotin, pemahaman masyarakat pada umumnya selalu mengaitkannya dengan tembakau, rokok dan dampak buruk nikotin bukan saja karena adiksi namun banyak masyarakat mengatakan bahwa nikotin adalah penyebab kematian akibat penyakit karena merokok.
Seiring dengan berkembangnya sisi negatif dari merokok, stigma buruk tentang nikotin menyebar di antara masyarakat, seolah menjadi musuh bersama masyarakat umum. Padahal beberapa fakta yang menjelaskan bahwa zat ini memiliki banyak kegunaan positif bila digunakan dalam kadar yang tepat, bukan hanya digunakan sebagai zat yang terkandung dalam rokok, dan nikotin bukan penyebab penyakit akibat merokok.
Merokok merupakan kebiasaan buruk yang masih banyak dilakukan banyak orang, walaupun bahaya merokok sudah banyak disosialisasikan, bahkan tertera pada kemasan rokok itu sendiri. Namun sayangnya, banyak orang yang kesulitan untuk berhenti merokok karena ketagihan (adiktif) akan rasa nikmat, puas dan fokus, yang kerap dianggap sebagai manfaat merokok.
Pada artikel ini, kita bersama-sama akan mengupas tentang apa itu nikotin, kegunaan dan dampak buruk zat ini, serta apa korelasi nikotin dengan bahaya merokok. Setelah membaca dan memahami isi artikel ini, kita diharapkan dapat berpartisipasi dalam upaya mengurangi jumlah perokok dan mengurangi bahaya yang ditimbulkan akibat merokok.
Apa itu nikotin: kegunaan dan bahayanya
Nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami oleh berbagai macam tumbuhan yang sering dikonsumsi sebagai makanan, seperti suku terung-terungan, kentang, tomat dan tembakau. Pada tembakau, kadar nikotin mencapai 0.6%-3% dari berat kering tembakau, sedangkan pada tumbuhan lain seperti yang disebut diatas, kadarnya sangat kecil yaitu dibawah 200 nanogram per gram berat kering.
Nikotin bertindak sebagai agonis (senyawa yang akan menimbulkan efek) di kebanyakan sel-sel reseptor asetilkolin nikotin di dalam tubuh manusia, terkecuali di dua subunit reseptor nikotinik, dimana nikotin bertindak sebagai reseptor antagonis (tidak menimbulkan efek).
Sama halnya dengan kafein, nikotin bersifat stimulan ringan dan adiktif sehingga dapat menimbulkan efek ketergantungan. Dalam rata-rata, sebatang rokok memberikan asupan 2 mg nikotin yang terserap dalam tubuh. Senyawa inilah yang membuat perokok mengalami ketergantungan terhadap rokok dan produk yang mengandung nikotin lainnya. Saat masuk ke dalam tubuh, hanya dalam waktu 10 detik nikotin dapat merangsang otak untuk melepaskan hormon dopamine (hormon bahagia) yang membuat perasaan menjadi lebih senang dan tenang untuk sementara waktu.
Nikotin menyebabkan pelepasan glukosa dari dalam hati dan hormon efinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal medulla yang membuat tubuh terstimulasi. Nikotin memiliki dampak terhadap perubahan suasana hati, dan dapat berfungsi baik sebagai perangsang (stimulan) maupun penenang (relaksan).
Nikotin juga dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk melawan serangan serangga dan Binatang herbivora lainnya, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai insektisida.
Ciri-ciri adiksi dan ketergantungan nikotin diantaranya adalah perubahan perilaku, penggunaan berlebihan, kembali ke kebiasaan merokok setelah berhenti serta toleransi obat. Selain ketergantungan, dalam jangka pendek dan jangka panjang, nikotin tidak dikategorikan berbahaya bagi orang dewasa.
Tidak ada bukti penelitian yang cukup yang menunjukkan nikotin memiliki keterkaitan dengan kanker pada manusia. Nikotin dikatakan memiliki daya karsinogenik terbatas karena menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, dan bukan penyebab munculnya sel-sel kanker. Walaupun demikian, dalam dosis yang sangat tinggi, nikotin dapat menyebabkan keracunan dan berpotensi mematikan.
Meski bersifat adiktif, nikotin bukanlah penyebab utama penyakit akibat kebiasaan merokok. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh UK Royal College of Physicians, sebuah institut medis di Inggris, membuktikan bahwa resiko penyakit akibat kebiasaan merokok bukan disebabkan oleh nikotin, melainkan kandungan lain yang berbahaya dari asap rokok akibat pembakaran.
Akan tetapi perlu diingatkan juga, bahwa nikotin memang tidak untuk dikonsumsi oleh anak di bawah usia 18 tahun, karena paparan nikotin pada anak-anak diketahui dapat mengganggu perkembangan otak serta meningkatkan resiko munculnya perilaku impulsive dan gangguan mood. Sementara itu, paparan nikotin pada ibu hamil diketahui dapat menghambat tumbuh kembang janin, serta meningkatkan resiko terjadinya kelahiran premature dan berat badan lahir yang rendah pada bayi.
Kebiasaan merokok: adiksi dan bahaya tar.
Kebiasaan merokok adalah kebiasaan buruk yang masih banyak dilakukan banyak orang dan merupakan salah satu isu kesehatan yang menjadi perhatian di Indonesia. Sebanyak 29% masyarakat Indonesia yang berusia >15 tahun adalah perokok. Angka perokok tertinggi ditemukan pada orang yang berusia 35-39 tahun, sementara angka remaja yang merokok juga dilaporkan cukup tinggi.
Manfaat merokok tidaklah sebanding dengan risiko yang ditimbulkan. Bukan hanya berbahaya untuk perokok sendiri, asap rokok juga bisa mengganggu kesehatan orang lain disekitarnya, termasuk juga bisa dialami oleh ibu hamil dan janinnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran atau bayi terlahir cacat. Sementara pada anak-anak, asap rokok bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran pernafasan, pneumonia hingga gangguan tumbuh kembang.
Padahal, bahaya merokok sudah banyak disosialisasikan, bahkan tertera jelas pada setiap kemasan rokok itu sendiri. Rokok tidaklah sekedar diisap lalu asapnya masuk ke dalam paru-paru, tetapi zat adiktif di dalamnya juga bisa mencapai otak dan mempengaruhi cara kerja tubuh.
Sayangnya, banyak orang yang kesulitan untuk berhenti merokok karena ketagihan akan efek rasa nikmat, puas dan fokus, yang kerap dianggap sebagai manfaat merokok. Namun berbagai manfaat merokok diatas bersifat sementara karena sebenarnya merupakan efek samping nikotin, yang justru membuat perokok menjadi kecanduan. Hal ini kerap membuat perokok kesulitan berhenti karena mereka jadi merasakan gejala putus nikotin, seperti mudah marah, cemas, susah tidur hingga depresi.
Tar
Selain efek samping nikotin yang disebutkan diatas, bahaya merokok berasal dari zat kimia lain yang terkandung dalam rokok, khususnya yang diakibatkan oleh proses pembakaran setiap batang rokoknya. Pembakaran pada rokok menghasilkan sekitar 7000 bahan kimia di dalamnya. Setidaknya ada 250 zat di dalam rokok yang berbahaya, dan 69 jenis diantaranya diketahui bersifat karsinogenik, yaitu dapat menyebabkan kanker.
Berbeda dengan nikotin yang memang alami terdapat di tembakau, tar adalah zat kimia dan partikel padat (solid carbon) yang hanya dihasilkan saat rokok dibakar. Tar merupakan zat yang memiliki sifat karsinogenik atau dapat memicu pertumbuhan sel-sel kanker di dalam tubuh. Tar juga bisa menumpuk di gigi dan menempel pada lapisan terluar gigi, sehingga membuat gigi tampak lebih kuning dan akan mengalami kerusakan bahkan akan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap bahkan kanker mulut. Ketika terhirup, tar akan mengendap di dalam paru-paru, yang dalam jangka waktu lama, endapan tar akan menyebabkan berbagai macam penyakit di paru-paru seperti emsifema, bronchitis, PPOK dan kanker paru. Tar juga dapat masuk ke dalam aliran darah dan mengganggu organ tubuh lainnya seperti gangguan kesuburan, diabetes, penyakit jantung dan kanker.
Nikotin menyebabkan ketergantungan dan umumnya menjadi penyebab perokok sulit berhenti merokok, sedangkan tar adalah zat berbahaya pada rokok yang dibakar akan terus masuk ke dalam tubuh perokok sehingga akhirnya menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti yang telah dijelaskan diatas.
Mencegah bahaya merokok untuk kesehatan
Oleh karena itu, untuk mencegah beragam bahaya merokok, menjaga kesehatan diri, melindungi keluarga dan orang-orang disekitar, masyarakat perlu terus diingatkan akan tiga hal yaitu: (1) janganlah memulai untuk mencoba merokok, (2) berhentilah merokok bagi perokok dan (3) jika sulit untuk berhenti merokok, pertimbangkan untuk menggunakan produk nikotin lain dengan risiko paparan yang sangat rendah dibandingkan dengan rokok.
Masyarakat perlu menyadari bahwa tidak merokok dan berhenti merokok akan mendatangkan banyak manfaat, khususnya bagi kualitas hidup diri sendiri dan orang-orang disekitar. Berhenti merokok memang tidak mudah, khususnya bagi perokok yang sudah bertahun-tahun atau sudah kecanduan nikotin, namun bukanlah sesuatu yang mustahil. Saat keinginan merokok muncul, cobalah untuk menahan dan menyibukkan diri dengan aktivitas lain seperti berolahraga atau mengerjakan hobi.
Untuk mengatasi kecanduan nikotin, pengidap dapat melakukan beberapa cara mengurangi ketergantungan secara mandiri di rumah atau melibatkan dokter bila diperlukan. Hal yang paling penting dari berhenti kecanduan zat ini adalah keinginan yang kuat, dorongan, dedikasi dan konsistensi untuk berhenti.
Jika segala upaya telah dilakukan namun masih kesulitan berhenti merokok, cari alternatif produk nikotin lainnya seperti rokok yang tidak dibakar (heated tobacco), rokok elektrik, permen dll.
Pengenalan konsep pengurangan bahaya (Harm Reduction)
Tidak ada definisi tunggal yang ditetapkan secara universal untuk harm reduction. Seperti halnya arti harfiah dari frasa tersebut, harm reduction mengacu kepada kebijakan, program, dan praktik yang dikembangkan untuk mengurangi bahaya dengan meminimalkan dampak kesehatan, sosial, hukum, ekonomi, bahkan dampak lingkungan yang merugikan dari perilaku dan aktivitas manusia.
Pendekatan harm reduction bertujuan untuk menciptakan perubahan positif bersama semua pemangku kepentingan dan masyarakat tanpa penghakiman, diskriminasi dan paksaan sebagai prasyarat dukungan dan inklusi. Pendekatan ini didasarkan pada semangat hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kasih sayang dengan tujuan mendasar yakni menjunjung keselamatan dan martabat semua orang.
Harm reduction tidak berarti menghapus bahaya, pendekatan ini bekerja dengan mengurangi bahaya perilaku dan aktivitas manusia yang tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Harm reduction terus ditingkatkan dari waktu ke waktu dengan kemajuan penelitian ilmiah dan inovasi teknologi berbasis bukti.
Meskipun mungkin terkesan sebagai sesuatu hal yang baru bagi banyak orang, kenyataannya, kita sudah terbiasa dan bahkan menerimanya dalam kehidupan sehari-hari, kita hanya belum menyadari bahwa hal-hal tersebut dibawah ini pada prinsipnya merupakan praktik dan alat harm reduction, seperti:
- Kesehatan masyarakat – memakai masker dan menerima vaksin untuk mengurangi risiko infeksi virus dan bakteri, rajin berolahraga.
- Makanan & minuman – makan dan minum garam rendah sodium, pemanis buatan, nasi dengan indeks glikemik rendah, berbahan herbal.
- Keamanan kendaraan – memakai sabuk pengaman, airbag, helm, mentaati undang-undang dan peraturan berlalu lintas.
- Risiko bencana – alarm gempa, perkiraan cuaca, antisipasi banjir, latihan kebakaran.
- Kebiasan merokok – menggunakan produk tembakau/nikotin alternatif
- Lingkungan hidup yang berkelanjutan – menggantikan energi berbasis fosil (kendaraan listrik, panel surya), memilah sampah, gaya hidup zero waste, tidak menggunakan tas berbahan plastic.
Meskipun jumlah penelitian ilmiah tentang harm reduction meningkat, pendekatan ini bukannya tanpa skeptisisme dan kritik. Beberapa instansi pemerintah, pakar, dan organisasi masyarakat sipil mengkhawatirkan efek “pintu gerbang” (gateway) dari intervensi ini, terutama bagi kaum muda. Sementara itu, bisnis yang bekerja menciptakan produk-produk inovatif minim bahaya (less harmful) belum dapat menyampaikan dasar ilmiah inovasi mereka dengan pesan paling akurat yang mengungkap nilai sebenarnya dari harm reduction.
Semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, bisnis, masyarakat sipil, dan media harus memahami manfaat dan tantangan harm reduction sehingga pendekatan ini dapat mencapai potensi terbaiknya, yakni membantu memecahkan masalah yang kompleks dan mengatasi dilema kebijakan.
Selain itu, pendidikan tentang harm reduction juga sangat berkorelasi dengan hak atas ilmu pengetahuan, informasi, dan kesehatan bagi semua orang, termasuk warga negara dan pelanggan. Berbekal pendidikan tentang harm reduction yang tepat, kita semua pada level individu dapat menyadari seluruh pilihan yang kita miliki dan mengetahui apa dan bagaimana mendapatkan alternatif yang lebih baik dan lebih inklusif.
Harm reduction dapat menjadi sebentuk “solusi jalan tengah” untuk membantu mengatasi masalah-masalah rumit di tengah masyarakat dan mesti diadopsi ke dalam kebijakan publik. Pada saat yang sama, semua pemangku kepentingan juga mesti melanjutkan upaya untuk terus mencari solusi yang lebih baik untuk mengatasi akar masalah melalui penelitian dan pengembangan ilmiah yang berkelanjutan.
Tobacco harm reduction
Konsep pengurangan dampak buruk tembakau (tobacco harm reduction) merujuk pada upaya-upaya yang bertujuan untuk mengurangi risiko penyakit terkait kebiasaan merokok. Diketahui, merokok merupakan salah satu kebiasaan yang dapat menimbulkan risiko, baik bagi perokok maupun orang lain di sekitarnya.
Namun, di tengah masyarakat sering terdapat stigma buruk bahwa nikotin merupakan penyebab utama di balik risiko berbagai penyakit terkait kebiasaan merokok. Padahal dari beberapa penelitian pun sudah membuktikan bahwa nikotin bukan merupakan penyebab utama berbagai penyakit terkait kebiasaan merokok, meskipun bersifat adiktif. The National Cancer Institute (NCI) menyatakan, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat berbahaya, yang sebagian di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Sebagian besar dari ribuan bahan kimia tersebut ditemukan di dalam TAR yang dihasilkan dari pembakaran rokok.
Saat ini mulai banyak penelitian bermunculan untuk menjawab permasalahan risiko terkait kebiasaan merokok. Salah satu dari penelitian-penelitian tersebut dilakukan oleh Harm Reduction Journal, yang mengutarakan setidaknya dua pendekatan yang bisa dilakukan dalam menangani permasalahan merokok, yaitu:
Pertama, sosialisasi bahaya merokok agar perokok berhenti sepenuhnya. Sebagai bagian dari pendekatan ini, pelaku industri juga harus dilibatkan dengan mewajibkan pencantuman informasi atau peringatan kesehatan pada kemasan rokok. Pilihan terbaik bagi perokok untuk mengurangi risiko terkait kebiasaan mereka adalah dengan berhenti total.
Kedua, adalah pendekatan pengurangan dampak buruk (harm reduction). Dalam kesehatan publik, konsep pengurangan dampak buruk merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan dan sosial yang terkait dengan kebiasaan atau penggunaan zat tertentu dengan memberikan alternatif lebih baik yang dapat menjadi pilihan, terutama jika berhenti total sulit dilakukan.
Dalam konteks kebiasaan merokok, pendekatan ini dapat dilakukan dengan mendorong perokok yang kesulitan berhenti untuk beralih ke produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, atau kantong nikotin. Hal ini dapat menjadi pilihan, sebab berdasarkan riset dari Public Health England, penggunaan produk tembakau alternatif, yang tidak melalui proses pembakaran, memiliki risiko kesehatan hingga 95% lebih rendah dibandingkan dengan terus merokok.
Meskipun tidak sepenuhnya bebas risiko, tetapi beralih ke produk-produk tersebut jelas merupakan pilihan yang lebih baik bagi para perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok sepenuhnya. Kunci dari rendahnya risiko produk tembakau alternatif jika dibandingkan dengan rokok adalah tidak adanya pembakaran.
Dalam upaya untuk memaksimalkan potensi manfaat dari konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) bagi masyarakat, dibutuhkan kerja sama yang baik dari semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, hingga masyarakat itu sendiri.
Kesimpulan
Meski bersifat adiktif, nikotin bukanlah penyebab utama penyakit akibat kebiasaan merokok. Tidak ada bukti penelitian yang cukup yang menunjukkan nikotin memiliki keterkaitan dengan kanker pada manusia. Nikotin dikatakan memiliki daya karsinogenik terbatas karena menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, dan bukan penyebab munculnya sel-sel kanker.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh UK Royal College of Physicians, sebuah institut medis di Inggris, membuktikan bahwa resiko penyakit akibat kebiasaan merokok bukan disebabkan oleh nikotin, melainkan kandungan lain yang berbahaya dari asap rokok akibat pembakaran. The National Cancer Institute (NCI) menyatakan, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat berbahaya, yang sebagian di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Sebagian besar dari ribuan bahan kimia tersebut ditemukan di dalam TAR yang dihasilkan dari pembakaran rokok.
Kebiasaan merokok adalah kebiasaan buruk yang masih banyak dilakukan banyak orang dan merupakan salah satu isu kesehatan yang menjadi perhatian di Indonesia. Untuk mencegah beragam bahaya merokok, menjaga kesehatan diri, melindungi keluarga dan orang-orang disekitar, masyarakat perlu terus diingatkan akan tiga hal yaitu: (1) janganlah memulai untuk mencoba merokok, (2) berhentilah merokok bagi perokok dan (3) jika sulit untuk berhenti merokok, pertimbangkan untuk menggunakan produk nikotin lain dengan risiko paparan yang sangat rendah dibandingkan dengan rokok.
Dalam kesehatan publik, konsep pengurangan dampak buruk merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan dan sosial yang terkait dengan kebiasaan atau penggunaan zat tertentu dengan memberikan alternatif lebih baik yang dapat menjadi pilihan, terutama jika berhenti total sulit dilakukan.
Meskipun tidak sepenuhnya bebas risiko, tetapi beralih ke produk-produk tembakau alternatif jelas merupakan pilihan yang lebih baik bagi para perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok sepenuhnya. Kunci dari rendahnya risiko produk tembakau alternatif jika dibandingkan dengan rokok adalah tidak adanya pembakaran.
Dalam upaya untuk memaksimalkan potensi manfaat dari konsep pengurangan dampak buruk tembakau (tobacco harm reduction) bagi masyarakat, pemerintah bersama-sama dengan para akademisi perlu mendorong berbagai penelitian dan membuat kebijakan yang terkait dengan upaya pengurangan bahaya akibat merokok.


