Home / Events / Photo / Papua kerahkan tim kesehatan Save Korowai

Papua kerahkan tim kesehatan Save Korowai

.
October 25, 2017
.
by Luthfi Mardiansyah
gfok_20171025_145903

Jayapura, Jubi- Pemerintah provinsi Papua akhirnya megerahkan tim kesehatan Save Korowai yang bertugas mendata status kesehatan, sekaligus melayani pengobatan dan memberikan makanan tambahan masyarakat, khusunya ibu dan balita. Pengiriman tim di Distrik Yani Ruma, Kabupaten Boven Digoel untuk mengetahui jelas persoalan kesehatan dan kemiskinan daerah tersebut.

“Suku Korowai masih terbelakang bahkan baru masuk dalam peta nasional sehingga dengan dibangunnya Bandara belum lama ini diharapkan tingkat kesehatan meningkat lebih baik,” kata kata Gubernur Papua, Lukas Enembe, Senin (23/10/2017)

Enembe berharap Dinas Kesehatan lebih komprehensif menangani masyarakat Korowai, karena suku ini merupakan salah satu suku terasing di Papua.

“Kami berharap jenis-jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat Korowai bisa ditangani baik oleh Dinas Kesehatan,” kata Enembe menambahkan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giyai, mengatakan tim Save Korowai itu bersifat memback up pelayanan kesehatan bagi masyarakat di enam kampung setempat.

“Sebenarnya tanggung jawab pelayanan kesehatan Suku Korowai berada pada beberapa Dinas Kesehatan daerah, pasalnya masyarakatnya tersebar di Kabupaten Boven Digoel, Asmat, Yahukimo, Mappi dan Pegunungan Bintang,” katanya.

Aloysius menyebutkan tim Save Korowai ini terdiri dari dua dokter yakni dr Aron Rumainun dan dr Gunawan Ingkokusumo serta enam petugas paramedis. Program itu diharapkan mampu meletakkan pondasi kesehatan hingga 2018-2020 sekaligus menyelesaikan masalah kesehatan di Korowai.

Sebelumnya Sekretaris Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat), Yan Akobiarik meminta pemerintah memperhatikan secara penuh masyarakat Korowai yang selama ini masih terhambat akses kesehatan dan kebutuhan lain.

“Selama bertahun-tahun mereka hidup dan jauh dari kata berkembang dan maju,” kata Yan Akobiarik.

Penyakit yang paling sering mereka alami itu seperti anak Puti Hatil, 3 tahun, menderita, bisul, malaria, gizi buruk, kulit gatal-gatal. “Selain itu banyak lagi penyakit lain, di antaranya; kaki gajah (filariasis), batuk berdahak, demam, kelaparan, dan lain sebagainya,” kata Yan menjelaskan.

Ia menyebut, masyarakat Korowai itu seakan dilarang hidup sehat dan mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan isu kanibalisme yang selama ini menghantui orang, tetapi tidak ada orang yang tergerak hati hidup bersama dan siap untuk melayani mereka.(*)

Posted in ,

Selamat Hari Raya

Indonesia – Switzerland Digital Health: Expanding Opportunities and Collaboration

Chapters Indonesia with supported by the Indonesian Embassy in Bern and the Switzerland Embassy in…

Kebijakan Inovatif Terkait Pengurangan Resiko Bahaya Tembakau

Paparan makalah mengenai Kebijakan Strategis Penanggulangan Epidemi Rokok di Indonesia, dihadapan Prof Bambang Brodjonegoro, Menteri…